SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten Membangun Relasi dengan Alam

SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten Membangun Relasi dengan Alam

Ret-Ret, doa, perayaan ekaristi dan devosi merupakan tradisi Katolik yang hingga kini tetap hidup dan dipelihara dalam lingkungan gereja dan keluarga. Tradisi-tradisi demikian akan dijumpai di lingkungan sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Katolik.

Kegiatan rohaniah demikian merupakan agenda tahunan yang selalu dilaksakan oleh pihak sekolah setiap tahun. Para guru dan peserta didik diberi kesempatan untuk menjauhkan diri dari kesibukan sehari-hari yang terkesan menjenuhkan.

SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten adalah salah satu contohnya.  Usai menyelenggarakan try out ujian berbasis kompetensi, dengan menggunakan aplikasi Ujian Nasional Berbasis Kompetensi (UNBK),  70 siswa kelas IX sekolah itu menyelenggarakan ret-ret.

Tujuan dari kegiatan rohani yang bertema ‘Relasiku dengan diri, Tuhan, sesama dan Lingkungan’ adalah untuk mempersiapkan mental para peserta ujian. Selain itu tujuan jangka panjangnya untuk menyongsong masa depan dengan kegembiraan dan harapan.

Makan bersama adalah salah satu cara siwa-siswi Kelas IX, SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten, membina keakraban dan belajar berbagi selama kegiatan ret-ret di Buraen

Selama tiga hari yakni Jumat-Minggu (26-28/1/2017), puluhan siswa menimati kesunyian di Buraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang. Sesuai tema yang diusung, para peserta diberi kesempatan untuk berintrospeksi dan berefleksi. Menikmati suasana alam sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas anugerah-Nya.

Tiga hari membebaskan diri dan tidak tergantung pada hal-hal duniawi. Komunikasi dengan dunia luar dihentikan sementara. Salah satu caranya adalah tidak boleh membawa gadget. Tidak ada aktifitas lain, selain kegiatan yang bersifat rohaniah yang dipandu oleh RD. Fransiskus Kopong, Pr selaku pastor pembimbing.

“Ret-ret, doa, ekaristi dan devosi itukan tradisi Katolik. Kita di sekolah-sekolah Katolik selalu melakukan pembinaan rohani yang demikian dan itu didukung oleh orang tua. Yayasan juga mendukung,” demikian Kepala Sekolah SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten, Rm. Amanche Frank Oe Ninu, Pr, di ruang kerjanya, Jumat (2/2/2018).

Anak zaman now harus bisa bersosialisasi dengan lingkungan, sesama dan Tuhan. Mental para generasi penerus gereja dan bangsa harus dibentuk untuk tidak terlalu bergantung dengan gadget.

Sekolah mempunyai tanggung jawab untuk mengarahkan peserta didiknya agar menghindari ketergantungan pada teknologi. Pasalnya teknologi bisa berdampak bagi masa depan seseorang apabila disalahgunakan. Sebalik jikalau dimanfaatkan secara baik akan berdampak positif.

Dikatakannya, “Selama kegiatan ret-ret tidak boleh bawa handphone. Itu positif agar anak-anak zaman now tidak tergantung dengan gadged dan itu penting untuk masa depan. Orang tua sangat mendukung karena pembinaan ini sangat positif bagi anak. Orang tua malah senang.”

Romo Amanche menambahkan, selain itu siswa-siswi SMP Katolik Santo Yosep Naikoten, juga memiliki kesempatan untuk berbaur dan bersosialisasi dengan masyarakat. “Mereka bisa berbaur meskipun hanya saat perayaan ekaristi bersama umat di Paroki Santo Yoahanes Pemandi Buraen,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *