SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten Siap Mengikuti UNBK

SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten Siap Mengikuti UNBK

Usai mengukuti kegiatan ret-ret di Biara Susteran CIJ, Buraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang selama tiga hari yakni, Jumat-Minggu (26-28/1/2017), siswa-siswi SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten Kupang, lebih siap mengikuti Ujian Nasional Berbasis Kompetensi (UNBK).

Pasalnya kegiatan yang bertujuan untuk pembentukan mental tersebut telah membawa perubahan dalam keseharian para pesertanya. Keraguan dan kecemasan yang pernah dialami sebelumnya telah hilang dengan sendiri.

Hal ini diungkapan oleh tiga orang murid SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten, Kupang. Ketiga orang itu masing-masing, Tiffani Amanda Putri Kore Mega, Winny Galatia Meyrani Lona dan Gabriella Sisilia Bunga Sani.

Kepada Pos Kupang, di SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten, Kamis (15/2/2018), mereka menjelaskan ret-ret merupakan sebuah kegiatan yang positif. Pasalnya selama berada di lokasi kegiatan, para peserta dilatih untuk lebih disiplin dan menghargai waktu. Selain itu menjadi pribadi yang mandiri dan tidak manja.

“Kalau di rumah itukan senua disiapkan dan serba ada akhirnya kita jadi anak yang manja. Nah semua itu berubah saat kita mengukuti ret-ret,” jelas Gabriella Sisilia Bunga Sani.

Lebih lanjut dia menjelaskn, selama tiga hari hidup tanpa gadged, diri merasa lebih tenang dan bebas. Selain itu tidak ada ketergantungan lagi dan lebih rajin berdoa. Pasalnya sudah terbiasa selama di lokasi kegiatan. Dikatakatannya, “Sekaranga sudah lebih siap mengikuti ujian nasional.”

Berlutut adalah sikap doa dalam tradisi Katolik. Setiap pagi dan sore para siswa Kelas IX, SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten, berlutut saat melakukan devosi untuk menghadapi Ujian Nasional Berbasis Kompetensi (UNBK) di lokasi ret-ret.

Ketika berada jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk warga kota, kenangnya, para peserta ret-ret dari SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten menemukan sebuah pengalaman baru dan berharga.

Selama berada di lokasi ret-ret, setiap kegiatan dimulai dan ditutup dengan doa bersama. Para peserta dilatih berbagi dan saling melengkapi dalam kekurangan, adalah sebuah pengalaman iman yang belum ditemui sebelumnya.

“Di Biara Susteran CIJ itu semua masalah, strees dan kejenuhan hilang seketika. Keakraban dengan teman-teman lebih terbangun. Misalnya kalau jarang komunikasi di sekolah, berubah saat kita mengikuti ret-ret,” sambung Winny Galatia Meyrani Lona.

Ret-ret tidak hanya mempersiapkan mental setiap siswa kelas IX dalam menghadapi ujian nasional. Para siswa lebih menghargai lingkungan, waktu, sesama pelajar, guru dan orang tua.

Hidup di tempat yang sunyi dan jauh dari kota merupakan sebuah pengalaman iman baru. Hal ini membentuk mental para siswa menjadi lebih dewasa dari yang sebelumnya. Pasalnya mereka harus belajar untuk saling melengkapi dan berbagi dalam kekurangan.

“Kalau di kota itukan bising dengan bunyi kendaraan bermotor, beda di Buraen yang kita dengar itu suara binatang. Kita juga berbagi tempat tidur, makan bersama. Berbagi cahaya lilin saat listrik padam. Itu pengalaman-pengalaman yang tidak ada sebelumnya,” tandas Tiffani Amanda Putri Kore Mega.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *