Siswa-siswi SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten Tidak Hanya Hebat Akademik

Siswa-siswi SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten Tidak Hanya Hebat Akademik

Adagium “waktu yang kamu sia-siakan dengan kegembiraan, tidak akan terbuang dengan sia-sia begitu saja.” Demikian Stefania Vunan Lapudo’oh, salah satu siswa kelas VIII yang menjadi master of ceremoni (MC) pada acara pentas seni (pensi), SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten Kupang, Sabtu (24/3/2018) malam.

Di hadapan para orang tua dan undangan yang menghadiri event tersebut, Gracia Funan, menjelaskan sejumlah prestasi dari tingkat Kota Kupang, hingga Nasional yang telah diraih oleh para siswa sekolah itu.

Prestasi-prestasi yang sudah pernah diraih oleh SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten-Kupang antara lain, juara satu lomba menulis artikel kategori pelajar tingkat nasional dalam rangka HUT Badan POM ke-16, tahun 2017, yang berjudul “ Dengan membaca dan menulis, kita akan bahagia dan abadi”.

SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten Kupang juga pernah meraih medali emas lomba karya tulis tingkat nasional di Jakarta pada tanggal 8 sampai dengan 11 Oktober 2017, judul karya tulis “ Mulugram dan Instagram di Propinsi Nusa Tenggara Timur.”

Selain itu sebuah karya milik salah satu siswa SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten-Kupang, yang berjudul “ Lamafa, Pemimpin Tangguh dari Pesisir Lamalera Lembata Nusa Tenggara Timur” juga berhasil meraih medali perunggu dalam Lomba Penelitian Siswa Nasional di Jakarta pada 9 hingga 13 Oktober 2017 di Jakarta.

“Ternyata siswa-siswi Speksanyo tidak hanya hebat di bidang akademik tetapi juga dalam hal kesenian dan kreativitas,” lanjut master of ceremoni.Kesenian dan kreativitas yang dimiliki oleh para siswa tersebutlah yang dipentaskan dalam ajang festival Sabtu (24/3/2018) malam itu.

Sementara Kepala Sekolah SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten-Kupang, Romo Amanche Frank Oe Ninu, Pr, S. Fil, menjelaskan, ada religiositas dan kebudayaan di atas panggung. Puisi ‘Lembing Dosa’ dan puisi ‘Via Dolorosa’ juga lagu ‘Sing To The Lord’ dan ‘Aleluya’ adalah contohnya.

Sementara tarian Hegong, Teo Renda dan tarian Manuk Rawa adalah contoh nuansa kebudyaan lokal dan nasional yang dihadirkan dalam pentas seni. “Dia atas panggung ada religiositas dan kebudayaan. Bukan hanya kebudayaan lokal tapi nasional,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *